Pembuatan CSMS – Dalam pekerjaan berisiko tinggi (High Risk), berharap semua berjalan lancar adalah doa, namun mempersiapkan diri untuk skenario terburuk adalah kewajiban.
Salah satu kesalahan fatal dalam manajemen K3 Ketinggian adalah hanya fokus pada cara NAIK yang aman, tapi lupa memikirkan cara TURUN jika terjadi kecelakaan.
Banyak kasus terjadi di mana pekerja jatuh, harness dan lanyard berhasil menahannya, tapi ia tergantung di udara selama 1 jam karena rekan kerjanya panik dan tidak tahu cara menurunkannya.
Akibatnya? Korban meninggal dunia bukan karena benturan, melainkan karena Suspension Trauma.
Setiap detik sangat berharga. Artikel ini akan memandu Anda menyusun dan menjalankan Emergency Response Plan (ERP) yang efektif saat ada rekan kerja yang jatuh.
Kalau ada yang jatuh, telepon Pemadam Kebakaran atau Polisi. Ini adalah Emergency Plan yang buruk. Mengapa?
Artinya, penyelamatan pertama harus dilakukan oleh tim yang ada di lokasi (Site Rescue).
Pahami bahayanya, mengapa waktu sangat penting? Pahami mekanisme mematikan ini di artikel Bahaya Fatal Tergantung di Harness.
Saat mendengar teriakan atau bunyi jatuhnya benda/orang, insting pertama biasanya adalah lari mendekat. JANGAN LAKUKAN ITU. Langkah yang benar
Sebelum melakukan tindakan fisik, Supervisor atau personel kompeten harus menilai situasi dalam hitungan detik
Jika korban SADAR, perintahkan dia untuk melakukan Self Rescue segera.
Instruksi untuk korban, teriakkan pada korban untuk menggunakan Trauma Strap. Baca tekniknya di Teknik Self Rescue Sederhana dalam TKBT 2

Jika korban pingsan atau cidera sehingga tidak bisa menolong diri sendiri, tim harus melakukan intervensi. Ada urutan prioritasnya
Remote Rescue (Tanpa Turun)
Ini metode paling aman bagi penolong. Upayakan menurunkan atau menaikkan korban tanpa perlu ada orang lain yang ikut menggantung.
Menaikkan: Jika korban jatuh dekat dengan platform dan lanyard-nya terjangkau, tarik korban bersama-sama ke area aman (menggunakan webbing sling tambahan atau winch jika ada).
Menurunkan: Jika menggunakan sistem scaffolding atau gondola, operasikan alat untuk menurunkan platform hingga korban bisa dipindahkan.
Rescue Kit: Gunakan tongkat galah (telescopic pole) untuk mengaitkan hook penyelamat ke harness korban, lalu kerek/turunkan menggunakan sistem katrol (hauling system).
Contact Rescue (Turun Menjemput)
Ini adalah opsi TERAKHIR karena sangat berisiko. Hanya boleh dilakukan oleh personel yang memiliki kompetensi penyelamatan khusus (biasanya level TKBT 1 atau TKPK/Rope Access).
Personel TKBT 2 yang tidak terlatih teknik Rescue dilarang mencoba teknik Contact Rescue sendirian.
Persiapan Alat: Pastikan anchor point yang digunakan untuk penyelamatan cukup kuat menahan beban DUA orang (Penolong + Korban). Cek Mengenal, Kekuatan & Pemasangan Anchor Point
Setelah korban sampai di tanah, bahaya belum selesai.
Cek Kesadaran & Napas (ABC): Airway, Breathing, Circulation.
Posisi Korban, jika korban TIDAK SADAR dan tidak bernapas, Segera baringkan terlentang dan lakukan CPR/RJP. Ini prioritas mutlak.
Jika korban SADAR: Biarkan korban mencari posisi nyaman (biasanya duduk bersandar dengan kaki ditekuk/posisi W).
Jangan memaksanya langsung berdiri/berjalan, dan jangan memaksanya tidur terlentang total (flat) jika ia merasa sesak, karena jantung sedang beradaptasi memompa kembali darah dari kaki.
Segera Bawa ke RS: Suspension Trauma bisa menyebabkan kerusakan ginjal (Rhabdomyolysis) yang baru muncul beberapa jam kemudian. Korban harus diperiksa dokter.
Semua langkah di atas tidak boleh hanya ada di kepala. Ia wajib tertulis dalam dokumen Rescue Plan yang dilampirkan pada setiap Surat Izin Kerja (Permit to Work).
Sebelum pekerjaan dimulai, tanyakan pada supervisor, Pak, kalau saya jatuh di titik ini, bagaimana cara bapak menurunkan saya? Jika supervisor tidak bisa menjawab, jangan mulai bekerja.
Pastikan Rescue Plan sudah terisi di formulir izin. Lihat contohnya di Pentingnya Permit to Work (Izin Kerja) Ketinggian.
Prosedur Tanggap Darurat bukan sekadar dokumen pelengkap tender. Ia adalah jaring pengaman terakhir ketika semua sistem pencegahan gagal.
Pastikan tim Anda tidak hanya jago memanjat, tapi juga paham cara menyelamatkan teman. Lakukan simulasi (drill) penyelamatan minimal setahun sekali. Jangan sampai latihan pertama Anda adalah saat kejadian nyata.
Apakah tim Anda memiliki perlengkapan P3K dan Rescue Kit yang memadai di lokasi? Seringkali alat rescue dikunci di gudang yang kuncinya dibawa orang yang sedang cuti.
Tim kami menyediakan paket pelatihan TKBT 2 yang mencakup berbagai aspek kebutuhan di dalamnya. Untuk info lengkapnya, silahkan hubungi kami!!