Pembuatan CSMS – Dalam dunia keselamatan kerja, seringkali kecelakaan terjadi bukan pada pekerjaan rutin, melainkan pada pekerjaan insidentil (jarang dilakukan) atau pekerjaan yang melibatkan risiko tinggi.
Untuk mengendalikan risiko pada level mikro (per tugas), dokumen HIRADC saja tidak cukup karena terlalu umum. Anda membutuhkan dokumen yang lebih detail, yaitu Job Safety Analysis (JSA).
Apa itu JSA? Bagaimana cara membuatnya? Dan apa bedanya dengan HIRADC?
Artikel ini akan memandu Anda menyusun JSA langkah demi langkah agar pekerjaan di lapangan berjalan aman dan sesuai standar SMK3.

Job Safety Analysis (JSA), terkadang disebut juga Job Hazard Analysis (JHA), adalah teknik manajemen keselamatan yang berfokus pada identifikasi bahaya sebelum suatu pekerjaan dimulai.
Prinsipnya sederhana yakni pecah pekerjaan menjadi langkah-langkah kecil, cari bahaya di setiap langkah, lalu cari solusinya.
Banyak yang bertanya, Kalau sudah punya HIRADC, kenapa harus bikin JSA lagi? Berikut perbedaannya
HIRADC (Identifikasi Bahaya & Penilaian Risiko): Bersifat Makro (Sistem). Dibuat untuk seluruh aktivitas perusahaan secara umum. Biasanya direvisi setahun sekali. Pelajari konsepnya di Cara Membuat HIRADC yang Benar
JSA (Job Safety Analysis): Bersifat Mikro (Tugas). Dibuat khusus untuk satu jenis pekerjaan tertentu secara detail. Dibuat setiap kali ada pekerjaan berisiko tinggi atau pekerjaan baru.
Tidak semua pekerjaan butuh JSA (misal mengetik di komputer tidak butuh JSA). JSA wajib dibuat jika Pekerjaan tersebut memiliki riwayat kecelakaan sebelumnya
Pekerjaan baru yang belum ada SOP-nya.
Pekerjaan berisiko tinggi (High Risk) seperti Bekerja di ketinggian, Masuk ruang terbatas (Confined Space), atau Pekerjaan Panas (Hot Work).
Pekerjaan yang melibatkan banyak tim/kontraktor (Simultan).
Siapkan formulir JSA (biasanya tabel 3 kolom: Urutan Langkah, Bahaya, Pengendalian). Berikut cara isinya
Pilih pekerjaan yang spesifik. Jangan terlalu luas.
Salah: “Perbaikan Gedung”.
Benar: “Penggantian Lampu Sorot di Atap Gudang Menggunakan Scaffolding”.
Pecah pekerjaan menjadi urutan logis dari awal sampai akhir. Jangan terlalu detail, tapi jangan terlalu umum. Contoh
Lihat setiap langkah di atas, lalu tanya, Apa yang bisa salah di sini?
Pada langkah mendirikan scaffolding, bahaya jari terjepit, tiang roboh menimpa orang, material jatuh.
Pada langkah memanjat: Bahaya jatuh dari ketinggian, tergelincir.
Berikan solusi konkret untuk setiap bahaya tadi.
Bahaya Jari Terjepit maka dari itu pakai sarung tangan impact protection. Cek standar sarung tangannya Manajemen APD dan Matriks Kebutuhannya
Bahaya Jatuh: Gunakan Full Body Harness double lanyard & pastikan scaffolding sudah di tagging hijau.
JSA bukanlah dokumen yang dibuat oleh Safety Officer sendirian di ruangan ber-AC. JSA harus dibuat bersama-sama dengan
Supervisor/Mandor (yang paham teknis kerja).
Pelaksana/Operator (yang akan mengerjakan).
Setelah jadi, JSA harus disosialisasikan kepada seluruh tim dalam sesi Safety Briefing atau Toolbox Meeting sebelum kerja dimulai.
Semua pekerja wajib tanda tangan di absensi JSA sebagai bukti mereka sudah paham bahayanya.
JSA adalah jembatan antara prosedur tertulis (SOP) dengan kenyataan di lapangan. SOP bersifat kaku, sedangkan JSA bersifat fleksibel menyesuaikan kondisi lapangan saat itu (cuaca, alat, dll).
Kemampuan menyusun JSA yang tajam dan akurat adalah kompetensi wajib bagi setiap Pengawas K3 dan Supervisor operasional.
Apa anda mengalami kesulitan dalam mengurus atau hal terkait SMK3 lainnya?? Yuk hubungi Jasa Konsultan Internal Auditor SMK3 Banten. Info lengkap silahkan hubungi kami